Rumah Tumbuh: Solusi Hunian yang Fleksibel Sesuai Kebutuhan

Rumah tumbuh atau growing house sering menjadi hunian alternatif ketika seseorang menginginkan untuk memiliki rumah tetapi terkendala dengan biaya yang terbatas.
Konsep ini memungkinkan pemilik rumah untuk membangun hunian secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi finansial.
Dengan perencanaan yang matang, growing house bisa menjadi solusi cerdas bagi mereka yang ingin memiliki rumah ideal tanpa harus mengeluarkan biaya besar sekaligus.
Bagi Anda yang masih asing dengan istilah tersebut, jangan khawatir. Dalam artikel kali ini, kami akan membahas pengertian, jenis, kelebihan, hingga kekurangan konsep dari rumah tumbuh.
Konsep Rumah Tumbuh

Rumah tumbuh adalah konsep hunian yang dirancang untuk dapat diperluas atau dikembangkan di masa mendatang.
Awalnya, rumah dibangun dengan desain dasar yang memenuhi kebutuhan esensial penghuninya.
Seiring waktu, pemilik rumah dapat menambah ruangan atau memperluas bangunan tanpa melakukan perubahan yang besar terhadap inti dari bangunan tersebut.
Sebagai contoh, Anda memiliki lahan seluas 150 m², tetapi kondisi finansial saat ini hanya memungkinkan untuk membangun rumah dengan luas 100 m².
Tidak perlu khawatir, konsep rumah ini memungkinkan Anda tetap bisa menempati rumah tersebut terlebih dahulu dan melanjutkan pembangunan sisanya ketika kondisi finansial sudah memungkinkan.
Konsep ini sangat cocok bagi pasangan muda yang baru menikah, keluarga kecil, atau mereka yang ingin memiliki rumah dengan fleksibilitas pengembangan.
Dengan perencanaan yang baik, rumah akan terlihat estetis dan fungsional meskipun dibangun dalam beberapa tahap.
Baca Juga: Mengenal Konsep Rumah Tapak, Apa Itu?
Contoh Desain Rumah Tumbuh

Secara umum, growing house dibagi menjadi dua jenis berdasarkan arah pengembangannya: vertikal dan horizontal.
1. Vertikal
Jenis yang pertama ada vertikal. Seperti namanya, desain rumah tumbuh horizontal dikembangkan ke atas dengan menambah lantai baru.
Jenis ini cocok untuk lahan yang terbatas atau berada di kawasan perkotaan yang memiliki harga tanah mahal. Anda bisa melakukan efisiensi penggunaan lahan.
Namun, Anda perlu memperhatikan struktur bangunan saat membangunnya. Pastikan struktur dan bahan bangunan kuat untuk menopang lantai tambahan.
2. Horizontal
Desain rumah tumbuh horizontal adalah rumah yang diperluas ke samping dengan menambah ruangan di area tanah yang masih tersisa. Jenis ini lebih fleksibel karena tidak membutuhkan struktur awal yang terlalu kuat.
Keunggulan dari rumah tumbuh horizontal adalah kemudahan dalam proses pembangunan karena tidak membutuhkan perombakan besar.
Yang menjadi kekurangannya, kebutuhan akan lahan yang lebih luas. Ini yang menjadi kendala jika harga tanah di lokasi tersebut cukup tinggi.
Baca Juga: 10 Faktor yang Memengaruhi Harga Rumah, Sudah Tahu?
Kelebihan

Konsep rumah tumbuh memiliki berbagai kelebihan yang menjadikannya pilihan menarik bagi banyak orang, di antaranya:
1. Lebih Fleksibel Dibanding Jenis Rumah Lainnya
Mengutip sebuah publikasi ilmiah dari Ardhya Nareswari, Universitas Gadjah Mada, rumah inti tumbuh menawarkan fleksibilitas kepada pemiliknya. Rumah ini dapat dibangun dan diperluas tanpa memerlukan ahli khusus.
2. Hemat Biaya
Kelebihan yang kedua, biaya rumah inti tumbuh cenderung lebih rendah dan dapat disesuaikan oleh kondisi finansial pemilik. Maka dari itu, konsep rumah ini memungkinkan pembangunan bertahap yang lebih terjangkau.
3. Investasi Jangka Panjang
Pemilik rumah dapat terus mengembangkan desain dan kelengkapan rumah sesuai dengan biaya yang dimilikinya. Efeknya, nilai properti rumah tersebut akan meningkat di masa mendatang.
4. Menyesuaikan dengan Kebutuhan Keluarga
Seiring bertambahnya anggota keluarga, rumah dapat diperluas sesuai dengan kebutuhan ruang yang diperlukan.
Baca Juga: Apa Bedanya Booking Fee dan DP? Ini Penjelasan dan Tipsnya!
Kekurangan

Meskipun memiliki banyak keuntungan, konsep rumah inti tumbuh juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu dipertimbangkan:
1. Proses Pembangunan Bertahap
Rumah ini memungkinkan pembangunan yang fleksibel sesuai dengan kemampuan finansial pemilik. Namun, pembangunan bertahap sering kali memakan waktu lebih lama dibandingkan membangun rumah secara langsung.
Anda mungkin bisa melanjutkan pembangunan dalam tahun ini, tetapi ada kemungkinan baru dapat melakukannya tahun depan, tergantung pada kesiapan anggaran dan kondisi lainnya.
2. Adanya Gangguan Saat Renovasi Rumah
Saat proses perluasan berlangsung, penghuni rumah mungkin mengalami ketidaknyamanan, seperti kebisingan, debu, atau keterbatasan ruang gerak.
Selain itu, aktivitas sehari-hari bisa terganggu karena adanya pekerja dan peralatan konstruksi di sekitar rumah.
3. Biaya Tambahan
Meski bisa dibangun secara bertahap, setiap renovasi atau pengembangan tetap membutuhkan biaya tambahan untuk tenaga kerja dan material.
Harga bahan bangunan pun dapat berubah seiring waktu, sehingga ada kemungkinan anggaran yang diperlukan menjadi lebih besar dari perkiraan awal.
Baca Juga: Apartemen atau Rumah? Ini Pertimbangan Sebelum Memilihnya
Temukan Rumah Hunian Impianmu dengan Harga Terjangkau Hanya di A&A Indonesia
Temukan ribuan listing rumah dijual di Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota-kota lainnya di A&A Indonesia. Dibantu oleh agen properti profesional, kami siap mendampingi Anda menemukan rumah impian dengan proses yang cepat, mudah, dan transparan.
Mulai pencarian rumah impianmu sekarang di sini!
Ingin membaca insight terbaru dari dunia properti? Baca artikel-artikel A&A lainnya di laman ini!